10 Fenomena Budaya di 10 Tahun Terakhir
Dalam satu dekade terakhir saya melihat perubahan yang sangat pesat dalam bidang sosial budaya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Perubahan ini turut didukung oleh perkembangan internet, media sosial,
smartphone, dan pola komunikasi yang semakin horizontal. Kini dunia seakan tak berjarak dan kesempatan pun tak terbatas. Implikasinya adalah beberapa fenomena baru yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
1. BOOM SENI RUPA
 |
I Nyoman Masriadi
(Sumber: www.harianjogja.com) |
Periode pertengahan 2000an ditandai dengan
boom seni rupa Asia. Faktor permintaan terhadap karya seniman Asia, termasuk Indonesia, sedang tinggi-tingginya sehingga harga karya pun melambung. Tidak tanggung-tanggung, lukisan karya I Nyoman Masriadi yang berjudul
The Man from Bantul (The Final Round) terjual dengan nilai sekitar 10 miliar Rupiah di balai lelang Sotheby’s Hong Kong pada tahun 2008. Pada masa
boom ini jumlah seniman muda meningkat, galeri tumbuh di kota-kota besar, kurator sibuk menginisiasi berbagai pameran, kolektor berebut untuk berinvestasi, sampai majalah yang mengulas seni rupa pun bermunculan. Sayangnya pada tahun 2010 pasar seni rupa mulai surut kembali.
2. PROGRAM EKONOMI KREATIF PEMERINTAH
 |
Triawan Munaf, Kepala Bekraf
(Sumber: www.tribunnews.com) |
Wacana ekonomi kreatif di Indonesia mulai didengungkan dalam pidato (mantan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lewat pidato pembukaan INACRAFT 2005. Sebagai tindak lanjut dikeluarkan Inpres No. 6 Th. 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif yang diikuti Perpres No. 92 Th. 2011 tentang pembentukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemenparekraf telah memetakan ekonomi kreatif di Indonesia menjadi 15 subsektor. Selanjutnya melalui Perpres No. 6 Tahun 2015 dibentuk Badan Ekonomi Kreatif untuk mengakomodasi sistem kerja lintas kementerian. Dengan adanya perhatian pemerintah diharapkan bidang-bidang kreatif di Indonesia bisa lebih maju dan mampu bersaing secara global.
3. KUANTITAS JURUSAN SENI RUPA DAN DESAIN
 |
Natamorta, Pameran Karya Mahasiswa DKV ITB
(Sumber: www.laughonthefloor.com) |
Dahulu masih banyak orang yang menganggap sebelah mata jurusan seni rupa dan desain, namun saat ini paradigma tersebut mulai ditinggalkan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan jurusan-jurusan terkait yang semakin pesat dalam 5 tahun terakhir. Jurusan Desain Komunikasi Visual atau Desain Grafis kini sudah tersebar di hampir 100 universitas (Rustan, 2015) sedangkan jurusan Desain Produk tersebar di 15 universitas (Wiradarmo, 2014). Meskipun belum ada data mengenai jurusan desain interior, tentu peningkatannya tidak kalah pesat. Belum lagi apabila ditambah jurusan-jurusan turunannya seperti
furniture design,
fashion design, dan animasi.
4. ENTREPRENEUR DAN LOCAL BRAND
 |
Finalis Wirausaha Muda Mandiri
(Sumber: www.csr.bankmandiri.co.id) |
Mulai dari lomba
business plan, seminar, sampai buku semuanya mendukung anak muda untuk menjadi
entrepreneur. Pemerintah dan korporasi pun mengintensifkan program dana pendukung wirausaha agar lebih banyak masyarakat bisa mandiri dan membuka lapangan pekerjaan. Untungnya hal ini juga dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk memilih
local brand. Secara tidak langsung kesadaran ini turut dibangun oleh maraknya
pop up market dan c
oncept store yang mempertemukan karya wirausaha lokal dengan konsumen. Intinya wirausahawan tidak perlu khawatir kesulitan menemukan
channel penjualan.
5. STARTUP APLIKASI DAN WEBSITE
 |
Event Jakarta Startup Weekend
(Sumber: www.startupbisnis.com) |
Salah satu bidang usaha yang paling digemari adalah
startup digital. Berkat sistem
open source di Android dan iOS, muncul developer yang mendirikan
startup berbasis aplikasi. Karena
platform yang digunakan adalah internet, keuntungan
startup berbasis aplikasi adalah konten dapat diunduh oleh pengguna
smartphone di berbagai negara. Selain aplikasi
developer juga banyak mengembangkan
startup berbasis
website karena semakin harinya kaum
netizen (orang yang menggunakan sebagaian besar waktunya untuk mengakses internet) di Indonesia terus bertambah.
6. SELEBGRAM DAN SELEBTWIT
 |
Selebgram & Blogger Evita Nuh
(Sumber: www.kompasiana.com) |
Setelah tren blogger mulai menurun, masyarakat beralih ke media sosial yang lebih simpel seperti Twitter (hanya 160 karakter) dan Instagram (hanya foto). Siapa sangka media ini justru menawarkan cara baru untuk memperoleh penghasilan sebagai selebgram dan selebtwit (
buzzer / endorser). Harga untuk setiap
post variatif dan biasanya tergantung dari jumlah followers. Korporasi atau
brand menganggap dengan bekerjasama dengan
buzzer, konten iklan lebih mudah sampai kepada target konsumen karena dekat dengan keseharian mereka (
soft selling).
7. VIDEO VIRAL
 |
Youtuber Sacha Stevenson
(Sumber: www.youtube.com/user/sasaseno) |
Belakangan ini muncul istilah vlogger atau video
blogger dimana pengguna mengunggah video-video di channel Youtube sesuai karakter dan tema channel masing-masing. Dari kebanyakan vlogger Indonesia di Youtube, tema komedi masih tetap yang paling digemari. Beberapa video bahkan menjadi
viral tidak hanya di kalangan
netizen, tapi sampai ditayangkan di televisi swasta. Penghasilan yang diperoleh seorang Youtuber atau vlogger berasal dari Youtube Ads maupun kerjasama dengan beberapa
brand untuk berpromosi.
8. KAMPANYE KREATIF
 |
Poster Jokowi Blusukan Ala Komik Tintin
(Sumber: www.iampost.co) |
Meskipun isu-isu negatif selama kampanye belum sepenuhnya hilang, sangat terlihat perubahan konten pada pemilihan presiden 2 periode terakhir. Kampanye dilakukan dengan berkarya seperti membuat buku, website, musik, konser, game, dan karya-karya grafis lainnya. Janji-janji kampanye dikemas dengan halus dan tidak monoton. Karya kesukaan saya adalah seri Jokowi blusukan oleh Hari Prast dan Yoga Adhitrisna.
9. GRAFIS DAN LAYOUT BUKU
 |
Buku #88 Love Life karya Diana Rikasari dan ilustrator Dinda Puspitasari
(Sumber: www.mooeyandfriends.blogspot.com) |
Sebelumnya membaca identik dengan buku tebal penuh tulisan kecil-kecil. Bagi yang tidak suka membaca, bisa dipastikan akan jarang sekali ke toko buku. Tapi sekarang penulis maupun penerbit lebih mempertimbangkan grafis dan
layout buku secara keseluruhan, bukan sekedar halaman sampul. Coba saja lihat buku-buku
best seller saat ini.
Font yang digunakan cenderung lebih besar, penuh ilustrasi, dan berwarna. Konten tidak perlu terlalu padat, buktinya ada buku-buku yang khusus memuat kumpulan
quote atau
tweet.
10. SEMANGAT BERBAGI
 |
Ribuan Relawan Peringatan 60 Tahun KAA di Bandung
(Sumber: www.infopublik.id) |
Saat ini sebagian anak muda di Indonesia pasti pernah menjadi relawan. Walaupun tidak dibayar, mereka memiliki semangat untuk berkontribusi di bidang yang mereka anggap penting. Contohnya adalah relawan program Indonesia Mengajar dan relawan acara peringatan 60 tahun KAA yang pendaftarnya sangat membludak. Selain relawan,
workshop skill-sharing dan
co-working space semakin mudah ditemukan.
***
Dari seluruh fenomena tersebut dapat ditarik benang merah bahwa seluruhnya berbasis kreativitas. Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membuat sesuatu yang baru (
make something from nothing). Tentu saja budaya kreatif turut mempengaruhi era perekonomian dunia yang sering disebut dengan era ekonomi kreatif.
Di abad ke-21 ini, ekonomi kreatif adalah sektor yang berkembang dan banyak meningkatkan perekonomian suatu negara. Ekonomi kreatif dapat bertahan walaupun krisis sedang berlangsung dimana-mana. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan John Howkins (2001) ditemukan bahwa ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat.
Era ekonomi kreatif tidak muncul tiba-tiba. Sebelumnya ada beberapa era dalam peradaban manusia yang telah dilewati sebagian masyarakat di seluruh dunia. Ketika satu era sudah tidak mendukung lagi, lahir era baru sebagai alternatif. Era ini dapat dilihat dari kegiatan ekonomi yang dilakukan manusianya. Menurut Alvin Toffler (1984) dalam buku
The Third Wave, beberapa era tersebut adalah sebagai berikut.
 |
Era Ekonomi Dunia
(Sumber: ilustrasi pribadi) |
Apabila ditinjau dari sisi historis, sesungguhnya nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang-orang kreatif. Ini dapat dibuktikan melalui berbagai peninggalan dan artefak yang masih dapat ditemukan sampai saat ini. Misalnya saja batik, tenun, alat musik daerah, candi, dan rumah adat. Selain memiliki gen kreatif, Indonesia juga potensial karena memiliki sumber daya manusia yang berlimpah. Ketika seluruhnya dapat memanfaatkan ide tentu saja Indonesia akan menjadi bangsa yang mandiri dan menguatkan citra Indonesia sebagai bangsa kreatif.
Saat ini tulang punggung perekonomian negara-negara maju ada pada masyarakat kreatif. Oleh karena itu masyarakat Indonesia pun harus dapat beradaptasi. Dengan ini perubahan zaman dan kondisi sosial budaya dapat dimaknai secara positif.
***
REFERENSI.
Dewi, Cokorda Istri. (2014).
Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Menuju 2025. Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Howkins, John. (2001).
The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. New York: Penguin Books.
Hujatnikajennong, Agung. (2015).
Kurasi dan Kuasa; Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.
Rustan, Surianto. (2015).
Bisnis Desain. Jakarta: Batavia Imaji.
Toffler, Alvin. (1984).
The Third Wave. New York: Bantam Books.
Wiradarmo, Aulia Ardista. (2014).
Analisis Profil Alumni Desain Produk dalam Relasinya dengan Pendidikan dan Keprofesian Desain Produk di Indonesia. Bandung: Desain Produk ITB.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...